Translate

Jumat, 26 Desember 2014

laporan mingguan bpfr mencampur ransum


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pakan merupakan sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak baik itu yang bersumber dari protein hewani dan nabati, sumber energi, sumber mineral dan sumber-sumber yang lain yang akan mencukupi kebutuhan dari ternak. Bahan pakan merupakan sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak baik itu yang bersumber dari protein hewani dan nabati, sumber energi, sumber mineral dan sumber-sumber yang lain yang akan mencukupi kebutuhan dari ternak.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas produk pakan adalah bahan pakan yang berkualitas. Kualitas bahan pakan dapat diketahui dengan melakukan pengujian dan pemeriksaan terhadap kualitasnya.Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi.
Dalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu bahan pakan itu sendiri terbagi menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi menjadi tepung ikan dan protein nabati dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi ada yang berbentuk biji-bijian atau butiran yang terbagi atas: padi, jagung, millet merah dan millet putih. Berbentuk tepung terbagi atas dedak halus, jagung giling, dan dedak halus. Berbentuk cairan terdiri atas: minyak sayur. Sumber mineral terdiri dari garam dan kerang.
Penyusunan ransum harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Memperhatikan kualitas bahan pakan yang digunakan, Memperhatikan batasan maksimum dan faktor pembatasnya, Memperhatikan kebutuhan gizi sesuai dengan fase pertumbuhan ayam. Selain itu hal lain yang harus diperhatikan adalah mengetahui bahan mana yang harus dicampur terlebih dahulu agar hasilnya rata atau homogen. Jika ransom dibuat dalam jumlah kecil dapat dilakukan secara manual tetapi bila dalam jumlah besar dapat digunakan mesun pencampur atau mixer.
.
   
1.2  Tujuan dan manfaat
Mahasiswa mengerti dan mampu bagaimana cara menghitung/menyusun ransum yang tepat sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak,  Mahasiswa mampu mencampur sendiri ransum untuk ternak .




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Formulasi Ransum
Sari(2001) menyatakan bahwa formulasi ransum harus memenuhi kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh ternak untuk kebutuhan hidup.
            Arian(2004) menyatakan bahwa formulasi ransum ada bermacam-macam cara,salah satunya adalah trial and error method.
            Martin(2005) menyatakan bahwa setelah ditentukan bahan yang akan diberi kepada ternak,maka kita harus menentukan zat gizi pada tabel Komposisi zat Makanan.
            Bambang(2008) menyatakan bahwa tiap bahan yang kita formulasikan,harus kita hitung biaya pembeliannya.
            Tuani(2007)menyatakan bahwa tingkat ketelitian dalam membuat formulasi ransum adalah sangat tinggi.
            Sri(2007) menyatakan bahwa kita harus menentukan jumlah ransum yang akan dibuat.
            Adam(2000)menyatakan bahwa tiap formulasi ransum harus berjumlah 100%.
Formulasi ransum adalah proses dimana berbagi macam bahan bahan makanan  dikombinasikan dalam proporsi yang esensial untuk ternak dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan fase produksinya  (Retnowati , 2000 ).
Diantara bahan pakan sumber protein tepung ikan merupakan bahan pakan yang paling baik dan superior dibandingkan dengan yang lainnya (Nurhayati, et all, 2008).
Protein nabati meskipun kualitasnya lebih rendah dari protein hewani tetapi ada zat-zat dalam protein nabati yang tidak terdapat dalam protein hewani dalam bentuk prekusaor-prekusor vitamin (Anggorodi.R, 2004).
Ransum yang yang diformulasikan haruslah mendapat cukup palatable agar dapat meransang nafsu makan, karena apabila ransum yang dibuat ditolak oleh ternak maka dapat dikatakan ransum tersebut kurang baik. (Teja Kaswari, 2008).



Mencampur Ransum
            Dalam mencampur ransum bahan-bahan yang dalam jumlah kecil dan bertekstur  halus harus dicampur terlebih dahulu selanjutnya bahan-bahan pakan yang berjumlah besar dicampurkan ( Nurhayati, et.al. 2008)
            Dua cara dalam mencampur ransum yang didasarkan pada jumlah ransum yang akan disusun. Dengan cara manual (jumlah ransum sedikit) dengan mesin pencampur “mixer” (jumlah Besar). (trobus.2008).
Bungkil kedele, ampas tahu ,merupakan bahan pakan sumber protein nabati yang lazim digunakan sebagai pakan ternak (Parrakkasi.a. 2004).
Bahan makanan yang dapt digunakan untuk menyusun ransum dapat dibedakan menjadi bahan makanan sumber energi, bahan makanan sumber protein, bahan makanan sumver lemak, dan  minyak, feed additif, enzymes, dan pemacu pertumbuhan (Nurhayati, 2008). 
Bahan pakan sumber energi yang utama adalah bahan pakan yangkandungan utamanya berupa karbohidrat yang mana lebih mudah dimetabolisme daripada energi yang berasal dari lemak (Tobing.L.R, 2000).
Bahan pakan sumber energi antaralain jagung, sorghum, beras, dedak padi, hijauan, serta minyak yang merupakan sumber energi yang berasal dari lemak yang berbentuk cairan (Anggorodi.R, 2006).
Dedak padi atau sekam padi merupakan hasil ikutan bahan penggiling beras yang masih bisa dimanfaat sebagai bahan pakan sumber energi yang berbentuk bubuk (tepung) (Trobos, 2007).
Bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung kulit kerang, mineral supplement (Hendaka, et al. 2008).
Bahan-bahan sumber vitamin lebih banyak dalam bentuk teblet atau bubuk yang diproduksi secara modern oleh indutri-iondustri bidang peternakan (Trobos, 2008).
Bahan-bahan pemalsu pakan  merupakan bahan-bahan yang bentuk, tekstur hampir sama dengan bahan pakan yang dipalsukan akan tetapi satu hala yang sulit untuk dipastikan yaitu bau (Parrakkasi.A. 2003).
Hijauan merupakan bahan pakan utama ternak rumanisia yang merupakan sumber energi yang diperoleh dari pencernaan serat (Parrakkasi.A. 2007).
Bahan pakan yang berasal dari tumbuh- tumbuhan  memiliki  kadar protein dan kadar energi yang cukup tinggi (Irfan anshory,2008).



BAB III
MATERI DAN METODA

3.1. Waktu dan tempat
            Adapun praktikum bahan pakan dan formulasi ransum Di mulai pada hari selasa,tanggal 9 juni 2014 yang bertempat di Laboratorium Makanan Ternak,Gedung C lantai 2 Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

3.2. Materi
Formulasi Ransum
             Alat yang digunakan dalam praktikumFormulasi Ransum adalah tabel kebutuhan ternak,tabel komposisi bahan makanan ternak,dan kalkulator.

Mencampur Ransum
Alat yang digunakan pada praktikum Mencampur Ransum adalah tabel kebutuhan ternak, tabel komposisi bahan makanan ternak, Sedangkan bahan yang digunakan adalah Tepung Ikan, Dedak Padi, Minyak Sayur, Jagung Giling,  Bungkil Kelapa Sawit, dan Premiks.



3.3. Metoda

Formulasi Ransum

           Adapun cara kerja dalam Formulasi Ransum adalah tentukanlah jenis ransum yang akan disusun.Kenudian tentukanlah bahan pakan yang akan digunakan.Tentukanlah kandungan zat makanan masing-masing bahan pakan penyusunan ransum terpilih pada tabel komposisi zat makanan bahan pakan.Tentukanlah jumlah ransum yang akan disusun dan perkiraan persentase penggunaan setiap bahan pakan dari jumlah total bahan pakan.Hitung kontribusi zat gizi dari masing-masing jenis bahan pakan.Persentase setiap bahan makanan dapat diubah sampai sesuai dengan kebutuhan zat gizi dari ransum yang dibuat.Kemudian bandingkan hasil perhitungan ransum yang dibuat dengan kebutuhan ternak yang bersangkutan.Misalnya kandungan protein,lemak,serat kasar,EM atau TDN-nya.


Mencampur Ransum

Sedangkan cara kerja dalam mencampur ransum adalah pertama-tama kelompokkan dulu bahan-bahan makanan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya halus (misalnya garam,  premix, dan CaCo3) dan campurkan sampai merata.
Kemudian jika menggunakan dedak padi dan minyak sayur maka campurkan keduanya terlebih dahulu.
Setelah itu tambahkan tepung ikan, bungkil kedele, jagung dan bahan lainnya dan campurkan semua bahan tersebut sampai merata dan menjadi homogen.



























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Puyuh fase grower
Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Puyuh pada Periode Pertumbuhan (NRC, 1994)
Nutrisi
Kebutuhan Nutrisi untuk Pertumbuhan (3-6 Minggu)
Energi Metabolis (kkal/kg)
2800
Protein kasar (%)
24,00
Lemak kasar (%)
2,80
Serat kasar (%)
4,10
Ca (%)
0,80
P (%)
0,65

Tabel 2.  Kandungan nutrisi beberapa bahan pakan
Bahan Pakan
Em/Kkal
PK
LK
SK
Ca
Dedak halus
2980
12,9
13
11,4
0,07
Jagung
3350
8,5
3,8
2,2
0,02
B.Kelapa
1525
19,2
2,1
14,4
0,17
Top Mix
0
0
0
0
0
bungkil kedelai
2850
40
0,9
6
0,11
Tepung ikan
3000
61,8
7,8
0,6
4,96

Bahan Pakan
Em/Kkal
PK
LK
SK
Ca
Dedak halus
1430,4
6,192
6,24
5,472
0,0336

Jagung
402
1,02
0,456
0,264
0,024

B.Kelapa
106,7
1,344
0,147
1,008
0,0119

Top Mix
0
0
0
0
0

bungkil kedelai
570
8
0,18
1,2
0,022

Tepung ikan
369
7,416
0,936
0,072
0,5952

Jumlah                              2869,1                   23,972            7,959                 8,016              0,6867

Tabel 3. Penggunaan
Bahan pakan
Persentase(%)
 Banyak bahan pakan
Jagung
48,00
2400 gram
Dedak Halus
12,00
600 gram
Bungkil Kelapa
7,00
350 gram
Bungkil Kedelai
20,00
1000 gram
Tepung Ikan
12,00
600 gram
Topmix
1,00
50 gram
Jumlah
100,00
5000 gram

Tabel diatas merupakan hasil formulasi pada praktikum sebelumnya, pada praktikum kali ini adalah mempelajari cara pencampurannya, bahan yang pertama kali dicampur ialah dedak disertai dengan minyak diberi sedikit demi sedikit sampai semua bahan tercampur.
            Setelah itu pemakaian bahan pakan yang telah di dapat di konversi lagi sehingga total berat Ransumnya sekitar 5 kg.

Hasil yang diperoleh dari pratikum ini  yaitu kita bisa mencampur ransum secara homogen dan mengetahui berapa formulasi ransum yang akan disusun d.n berapa kebuthan agar mendaatkan jumlah zat yang terdapat dalam bahan sebagai palatable. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Teja Kaswari (2008).  Yang menyatakan bahwa Ransum yang yang diformulasikan haruslah mendapat cukup palatable agar dapat meransang nafsu makan, karena apabila ransum yang dibuat ditolak oleh ternak maka dapat dikatakan ransum tersebut kurang baik.
Bahan yang digunakan dalam mencampur ransum terdiri dari sumber protein, energi, dan mineral sehingga akan mempengaruhi kebutuhan tenak itu sendiri.
Setelah praktikum Formulasi Ransum,maka didapat hasil seperti yang Persentase hijauan pada pakan paling sedikit 50 % dari total kebutuhan pakan yang diberikan, oleh karena itu sebagian besar pakan mengandung serat kasar sehingga pencernaannya spesifik dan berbeda dengan ternak lambung tunggal (non-ruminansia)
·       Dalam penyusunan ransum ruminansia yang sangat diperhatikan adalah jumlah energi dan protein.
·       Mineral yang penting adalah kalsium dan fosfor,
·       Vitamin yang harus memenuhi kebutuhan adalah vit. D dan A.
·       Semua Zat nutrisi  tersebut dapat dipenuhi dari hijauan dan konsentrat yang diberikan dalam pakan ternak ruminansia
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya, peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.

Ada beberapa metode untuk menyusun ransum yaitu :
·       Metode coba-coba
·       Metode Bujur sangkar
·       Metode Persamaan
·       Linear Programing


METODE PERSAMAAN

·       Metode persamaan dapat digunakan untuk menyusun pakan ternak baik ruminansia maupun non ruminansia.
·       Persyaratan Metode Persamaan :
1. Dalam metode ini ada dua  sampai tiga zat nutrisi yang harus  di penuhi. 
Pada      bahasan kali ini hanya dua sehingga digunakan dua persamaan saja.  Misalnya protein dan energi atau dapat juga protein dan mineral.
2. Harus ada dua bahan yang harus dicari untuk memenuhi kekurangan dari bahan   bahan yang sudah ditentukan, satu sebagai sumber protein dan yang lain sebagai sumber energi.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
Di dalam praktikum formulasi ransum adapun hasil yang diperoleh yaitu kita bisa mencampur ransum secara homogen dan mengetahui berapa formulasi ransum yang akan disusun serta mengetahui juga bahan mana yang mengandung banyak zat yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Hal ini sesuai dengan pendapatNurhayati, (2008) Bahan makanan yang dapat digunakan untuk menyusun ransum dapat dibedakan menjadi bahan makanan sumber energi, bahan makanan sumber protein, bahan makanan sumber lemak, dan  minyak, feed additif, enzymes, dan pemacu pertumbuhan.
Hasil yang diperoleh dari pratikum ini  yaitu kita bisa mencampur ransum secara homogen dan mengetahui berapa formulasi ransum yang akan disusun d.n berapa kebuthan agar mendaatkan jumlah zat yang terdapat dalam bahan sebagai palatable. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Teja Kaswari (2008).  Yang menyatakan bahwa Ransum yang yang diformulasikan haruslah mendapat cukup palatable agar dapat meransang nafsu makan, karena apabila ransum yang dibuat ditolak oleh ternak maka dapat dikatakan ransum tersebut kurang baik.
          Bahan yang digunakan dalam mencampur ransum terdiri dari sumber protein, energi, dan mineral sehingga akan mempengaruhi kebutuhan tenak itu senderi.

A. Bahan Pakan Nabati
            Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahan pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan daun-daunan yang suka dimakan oleh ternak.
            Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai kandungan protein tinggi seperti bungkil kelapa. bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan. Dan tentu saja kaya akan energi seperti jagung.

1. Dedak halus
            Dedak sebagai limbah penggilingan padi banyak terdapat di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil padi. Pada saat musim panen, dedak mudah diperoleh dan murah harganya.
 Dedak sebagai bahan pakan ternak luas penggunaannya, dapat digunakan sebagai bahan pakan berbagai jenis dan tipe ternak.
            Dedak halus dibedakan antara dedak halus pabrik dan dedak halus kampung. Dedak halus kampung mengandung lebih banyak serat kasar dibandingkan dedak halus pabrik, serta kandungan proteinnya hanya 10,1 %, sedangkan dedak halus pabrik mengandung protein 13,6%.
Sedangkan kandungan lemaknya tinggi, sekitar 13%, demikian juga serat kasarnya kurang lebih 12%. Oleh karena itu penggunaan dedak halus dalam pakan ternak khususnya ayam buras sebaiknya tidak melebihi 45%. Bila beras yang sudah putih digiling kembali, maka akan didapatkan limbah berupa bekatul dengan kandungan proteinnya 10,8%, ini dapat juga digunakan sebagai bahan pakan ayam buras.

2. Jagung
Jagung sebagai pakan ayam buras sudah sejak lama digunakan. Jagung mengandung protein agak rendah (sekitar 9,4%), tetapi kandungan energi metabolismenya tinggi. (3430 kkal/kg). Oleh karena itu jagung merupakan sumber energi yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah (sekitar 2%), sehingga memungkinkan jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung kuning mengandung pigmen karoten yang disebut "xanthophyl". Pigmen ini memberi warna kuning telur yang bagus dan daging yang menarik, tidak pucat.

3. Bungkil Kelapa Sawit
Bungkil kelapa sawit merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan lemak. Indonesia kaya akan pohon kelapa sawit dan banyak mendirikan pabrik minyak goreng, sehingga bungkil kelapa sawit banyak tersedia kandungan protein cukup tinggi sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 - 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa sawit ini miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Oleh karena itu penggunaan dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, sedang kekurangan Cysine dan Histidin dapat dipenuhi dari tepung itu atau Cysine buatan pabrik. Secara umum bungkil kelapa sawit berwarna coklat, ada coklat tua ada coklat muda (coklat terang) sebaiknya dipilih bungkil kelapa sawit yang berwarna coklat muda atau coklat terang inilah yang kita pilih. Bungkil Kelapa sawit mudah dirusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harus hati-hati dalam menyimpan, menurut pendapat dari Irfan anshory, (1997). Bahan pakan yang berasal dari tumbuh- tumbuhan  memiliki  kadar protein dan kadar energi yang cukup tinggi.

B. Bahan Pakan Hewani.
Bahan pakan asal hewan ini umumnya merupakan limbah industri, sehingga sifatnya memanfaatkan limbah. Bahan pakan hewani yang biasa digunakan adalah tepung ikan, tepung tulang, tepung udang dan tepung kerang. Beberapa bahan pakan hewan yang lain adalah cacing, serangga, ulat dll. Bahan-bahan pakan ini ditemukan ayam yang dipelihara secara intensif, cacing, serangga dan lain-lain tidak diberikan. Tetapi bekicotyang banyak didapat di musim hujan, sudah mulai diternakkan, merupakan bahan pakan alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.

1. Tepung Ikan.
            Tepung ikan merupakan bahan pakan yang sangat terkenal sebagai sumber protein yang tinggi. Tetapi perlu diketahui bahwa kandungan gizi tepung ikan ini berbeda, sesuai dengan jenis ikannya. Disamping jenis ikan, proses pengeringan ikan juga mempengaruhi kualitas tepung ikan tersebut. Ada beberapa macam proses pengeringan, yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan pijar api sesaat. Pengeringan matahari merupakan proses termudah dan termurah, tetapi juga  rendah kadar proteinnya. Tepung ikan lokal yang bersumber dari sisa industri ikan kalengan atau limbah tangkapan nelayan dan hanya dijemur dengan panas matahari mempunyai kandungan protein kasar hanya 51-55%. Menurut pendapat dari Parning, Mika dan marlan, (2000) menyatakan bahwa tepung ikan merupakan bahan pakan yang superior yang mempunyai kadar protei paling tinggi dari bahan pakan lainnya.
            Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Dengan kandungan gizi yang sangat baik ini maka tak heran bila harganyapun mahal. Oleh karena itu, untuk menekan harga ransum, pengguna tepung ikan dibatasi dibawah 8%. Di Indonesia, tepung ikan ada beberapa macam baik produk lokal maupun import dengan kualitas yang beragam. Dengan kondisi ini peternak disarankan membeli tepung ikan dari penjual yang terpercaya dan sudah biasa menjual tepung ikan yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sutresna Nana ( 1995 ). Yang menyatakan bahwa Pemberian ransum pada ternak adalah untuk menyediakan bahan makanan yang dibutuhkan ternak sehinggga dapat menghasilkan daging, susu dan telur yang menguntungkan bagi peternak
Untuk memenuhi komposisi formulasi ransum yang apabila dikombinasikan akan mendapatkan hasil yang sempurna atau esensial sehingga dapat memenuhi kebutuhan ternak tersebut hal ini sesuai dengan pendapat dari Retnowati ( 1999 ). Formulasi ransum adalah proses dimana berbagi macam bahan bahan makanan  dikombinasikan dalam proporsi yang esensial untuk ternak dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan fase produksinya .




Hasil formulasi ransum beberapa kelompok terhadap kebutuhan ransum beberapa ternak
Kelompok 2 Ayam fase grower
Tabel 4.Kebutuhan Nutrisi Ternak Ayam Broiler Fase Grower

Em/Kkal
PK
LK
SK
Ca
3100
20
5-8
3-5
0,9-1,1


Tabel 5. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan
Bahan Pakan
Em/Kkal
PK
LK
SK
Ca
Dedak
2980
12,9
13
11,4
0,07
Jagung
3350
8,5
3,8
2,2
0,02
B.Kelapa
2537
36.1
1.6
0.2
1.28
Minyak
7200
0
99
0
0
Top Mix
0
0
0
0
0
T.Kulit Kerang
0
0
0
0
38






Bahan Pakan
Pemakaian
Em/Kkal
PK
LK
SK
Ca
Dedak
3
89,4
0,387
0,39
0,342
0,0021
Jagung
55
1842,5
4,675
2,09
1,21
0,011
B.Kedele
35
780,5
15,4
0,28
2,45
0,098
Minyak
5
360
0
4,95
0
0
Top Mix
0
0
0
0
0
0
T.Kulit Kerang
2
0
0
0
0
0,76
Jumlah
100
3072,4
20,462
7,71
4,002
0,8711
Kebutuhan
3100
20
5-8
3-5
0,9-1,1
  








Tabel 6. Hasil Konversi Bahan Pakan
Bahan Pakan
Total Berat Ransum (gr)
Hasil Formulasi (%)
Berat Pakan di Butuhkan (gr)
Dedak Padi


5000
3
150
Jagung Halus
55
2750
Bungkil Kelapa
35
1750
Minyak Sawit
5
250
Top Mix
0
0
T.Kulit Kerang
2
100

Jumlah
5000 gr


Kelompok A6,itik fase finisher
Tabel 7. Kandungan Zat Makanan Bahan Pakan.
Bahan pakan
EM
PK
SK
LK
CA
Dedak
2980
12,9
11,4
13
0,07
Jagung
3350
8,5
2,2
3,8
0,02
Bungkil.kelapa
1525
19,2
14,4
2,1
0,17
Minyak sayur
0
0
0
9,9
0
Top mix
0
0
0
0
100

Tabel .8.  pemakaian Bahan Pakan Setelah Formulasi

Bahan pakan
Pemakaian
EM
PK
SK
LK
CA
Dedak
21,5%
640,7
2,7735
2,451
2,795
0,01505
Jagung
59,5%
1993,25
5,0575
1,309
2,205
0,0119
Bungkil kelapa
10,5%
160,125
2,016
1,512
0,0396
0,017858
Minyak sayur
0,4%
0
0
0
0
0
Top mix
0,6%
0
0
0
0
06
Jumlah
92,5%
2794,075
9,897
5,272
5,3161
0,6448
Batas
100%
2800
14,15
6,9
3-6
0,8


Kelompok  A.8 : Ayam Petelur  Fase  Starter
Tabel 9 hasil kelompok 8
No
Bahan pakan
Penggunaan        (%)
Energi  (Kkal/kg)
Protein Kasar (%)
Lemak Kasar (%)
Serat Kasar (%)
1
Jagung
57
1909,5
4,845
1,254
2,54
2
Dedak
20
596
2,58
0,714
2,82
3
BIS
20
305
3,84
0,42
2,28
4
M.Sawit
2
0
0
0
0
5
Premix
1
0
0
0
0
Jumlah
100
2810,5
11,265
2,388
5,814
Kebutuhan (%)

2800-3500
22-24
2,5
4

kelompok 10 formulasi ransum
Tabel 10.kebutuhan fase grower
Unsur nutrisi
kebutuhan
Protein %
20
Energi metabolisme (kkal)
3100
Serat kasar %
3 sampai 5
Lemak %
5 sampai 7
Kalsium %
0,9-1,1

Tabel 11. NRC
penyususn ransum
em
Pk
lk
sk
ca
dedak
2980
12,9
13,0
3,57
0,07
jagung
3350
8,5
3,8
2,2
0,02
bungkil kelapa
1525
19,2
2,1
0
0,17
minyak
0
0
99
0
0
top mix
0
0
0
0
100

Tabel 12. perhitungan

penyususn ransum
%
Em
pk
lk
sk
ca
Dedak
30
894,0000
3,8700
3,9000
1,0710
0,0210
Jagung
60
2010,0000
5,1000
2,2800
1,3200
0,0120
bungkil kelapa
9
137,2500
1,7280
0,1890
0,0000
0,0153
Minyak
0
0,0000
0,0000
0,0990
0,0000
0,0000
top mix
1
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,9000
jumlah
100
3041,2500
10,6980
6,4680
2,3910
0,9483
standar
3100
20
5 sampai 7
3 sampai 5
0,9-1,1

Formulasi ransum kel A 11
Tabel 13. kandungan bahan pakan
penyusunransum
em
Pk
lk
sk
ca
dedak
2980
12,9
13,0
11,4
0,07
jagung
3350
8,5
3,8
2,2
0,02
bungkilkelapa
1525
19,2
14,4
2,1
0,17
minyak
0
0
0,99
0
0
top mix
0
0
0
0
1,00








Kebutuhan nutrisi ayam petelur fase finisher

Energi Metabolisme(Kkal)    2650 - 2900
Protein Kasar(%)                        15 -18
Lemak Kasar(%)                      2,5 - 7
Serat Kasar(%)                               7
Kalsium (Ca)                             3,25 - 4

Tabel 14. perhitungan formulasi ransum
penyusunransum
%
Em
pk
lk
sk
ca
5 kg
Dedak
21
625,8000
2,7090
2,7300
2,3940
0,0147
1050
Jagung
55
1842,5000
4,6750
2,0900
1,2100
0,0110
2750
bungkilkelapa
20
305,0000
3,8400
2,8800
0,4200
0,0340
1000
Minyak
0,25
0,0000
0,0000
0,2475
0,0000
0,0000
12,5
top mix
3,75
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
3,7500
187,5
jumlah
100
2773,3000
11,2240
7,9475
4,0240
3,8097
5000
standar
2650-2900
15 -18
2,5 - 7
7
3,25 -4


Kelompok 13
Tabel 15. Kandungan zat-zat makanan dan energi metabolis pakan
No
Bahan pakan
Protein (%)
Lemak (%)
Serat kasar (%)
Energi metabolis (kkal/kg)
1
Jagung kuning
8,6
3,9
2,0
3.370
2
Dedak halus
12,0
13,0
12,0
1.630
3
Bungkil kedelai
45,0
0,9
6,0
2.240
4
Bungkil kelapa
21,0
1,8
15,0
1.540
5
Bungkil kacang tanah
42,0
1,9
17,0
2.200
6
Tepung ikan
61,0
4,0
1,0
2.830


Tabel 16. Susunan ransum ayam broiler fase starter
No
Bahan pakan
Jumlah
Protein
lemak
Serat kasar
EM
1
Jagung
60,00
5,16
2,34
1,20
2.022,00
2
Dedak halus
3,00
0,36
0,39
0,36
48,90
3
Bungkil kedelai
20,50
9,23
0,18
1,23
459,20
4
Bungkil kelapa
1,50
0,32
0,02
0,23
23,10
5
Tepung ikan
13,00
7,90
0,52
0,13
370,50
6
Minyak kelapa
1,50
-
-
-
129,00
7
Premix-A
0,50
-
-
-
-
Jumlah
100,00
22,97
3,45
3,15
3.052,70
                    
Kelompok 14
Tabel 117. Kebutuhan Nutrisi Itik Fase Finisher
Nutrisi
Kebutuhan Nutrisi
Energi Metabolis (kkal/kg)
2800
Protein kasar (%)
14-15
Lemak kasar (%)
3-6
Serat kasar (%)
6-9
Ca (%)
0,80



Tabel 18.  Kandungan Zat Makanan Bahan Pakan.

penyususn ransum
em
Pk
lk
sk
ca
dedak
2980
12,9
13,0
3,57
0,07
jagung
3350
8,5
3,8
2,2
0,02
bungkil kelapa
1525
19,2
2,1
0
0,17
minyak
0
0
99
0
0
top mix
0
0
0
0
100

penyususn ransum
%
Em
pk
lk
sk
ca
Dedak
22
655,6000
2,8380
2,8600
2,5080
0,0154
Jagung
60
2016,7000
5,1170
2,2876
1,3244
0,0120
bungkil kelapa
17
256,2000
3,2256
0,3528
2,4192
0,0286
Minyak
0,30
0
0
0,2970
0
0
top mix
0,70
0
0
0
0
0,7000
jumlah
100
2928,5000
11,1806
5,7974
6,2516
0,756
standar
2800
14-15
3 - 6
6 - 9
0,8









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Dari praktikum Formulasi Ransum dan Mencampur Ransum dapat disimpulkan bahwa dalam pencampuran ransum bahan-bahan yang terlebih dahulu dicampurkan adalah bahan yang halus/ kecil harus dicampur terlebih dahulu hingga homogen maka selanjutnya bahan – bahan yang berjumlah lebih besar.
Adapun metode yang digunakan dalam menyusun ransum ini antara lain yaitu metode trial and error method. Sedangkan di dalam mencampur ransum itu sendiri dapat menggunakan sumber protein, sumber energi, sumber mineral dan sumber yang lainnnya yang dapat menunjang terbentuknya ransum.

5.2 Saran
Demikian laporan ini, kepada pembaca agar dapat dijadikan pedoman untuk melakukan kegiatan yang sama. Akan tetapi laporan ini bukanlah sempurna untuk itu kiranya pemnaca dapat memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan laporan kedepannya.

  




DAFTAR PUSTAKA


Anggorodi. R. 1997. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Anshory  Irfan ,  1984.  Bahan  Pakan  dan  Formulasi  Ransum.  Jakarta  :  Erlangga.

Aris. A. 1983. Kriteria Pakan Berkualitas. Universitas Indonesiaa Press. Jakarta.

Dwidjo. J. P.1997. Teknik Penyusunan Ransum. Penebar Swadaya. Jakarta.

Gultom S. 1988. Ilmu Gizi Ruminansia. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. LUW-Universitas Brawijaya Animal Husbandri Project.

Hendalia, et.al. 2008. Biokimia Nutrisi. Fapet UNJA. Jambi.

Jamestown, 1997.  Theory and Practice Penambol Books Armidale. NSW. Australia.

John Siregar. 1978. Introduction Partical Animal Breeding. Granada Publishing, Mexico

Joseph, 1991. Ilmu Makanan TernakGajah Mada University Press Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Kaswari. T. 2008. Diktat Nutrisi Ternak dasar. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.

Kenan. 1980. An Introduction to Partical Animal Breeding. Granada Publishing, Newyork.

Kenan. 1980. General  College  Chemistry.  New  York  :  Harper  and  Row  Nurhayati, et.al. 2008. Nutrisi Ternak Unggas. Fapet UNJA. JambI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar