Translate

Jumat, 26 Desember 2014

laporan mingguan bpfr analisis proksimat

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

       Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi, kadar air, kadar abu, protein, lemak, serat kasar serta kadar bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) pada suatu zat makanan dari bahan pakan ternak. Pendapat ini didukung oleh pendapat Arora (2008) mengatakan bahwa; “Analisis proksimat adalah analisis terhadap suatu bahan yang menyangkut air, protein, lemak, abu dan serat. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya’’.
Pakan merupakan komponen pokok yang mengambil porsi terbesar dari biaya produksi suatu usaha peternakan. Kualitasnya pakan ditentukan oleh kualitas bahan baku yang menyusunnya. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa.
Selain itu, analisis proksimat dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menyusun formula ransum dengan baik. Mengevaluasi ransum yang telah ada seperti mencari kekurangan pada ransom tersebut kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan menambahkan zat makanan yang diperlukan.

1.2  Tujuan dan Manfaat
         Adapun tujuan setelah diadakannya praktikum ini  adalah untuk mengetahui kandungan zat makanan, kadar air, kadar abu, serat, proin dan lemak kasar serta BETN dari bahan pakan/ yang akan diuji.
 Manfaat yang diperoleh dari raktikum ini adalah untuk meningkatkan kemampuan praktikan dalam menganalisis bahan pakan dengan  baik meliputi pengetahuan dasar dan aplikasinya, sehingga para praktikan/ mahasiswa FAPET UNJA dapat mengaplikasikannya dikehidupan nyata.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pemilihan bahan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat makanan itu sendiri yang dibutuhkan oleh ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara penyusunan ransum, diperlukan pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Merupakan suatu keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin, tidak mempunyai sifat kimia secara individual (Handaka, 2008).
Secara garis besar jumlah zat makanan dapat dideterminasi dengan analisis kimia, seperti analisis proxsimat, dan terhadap pakan berserat analisis proxsimat lebih dikembangkan lagi menjadi analisis serat (Soejono, 2004).
Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan pada ternak selama 24 jam. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan pakan adalah komponen ransum yang dapat memberikan manfaat bagi ternak yang mengkonsumsinya. Ransum merupakan factor yang sangat penting di dalam suatu usaha peternakan, karena ransum berpengaruh  langsung terhadap produksi ternak  (Sinurat, 2000).
Perubahan ransum baik secara kualitas maupun kuantitas maupun perubahan pada komponennya akan dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup serius. Sehingga untuk mengembalikan produksi seperti semula sebelum perubahan ransum cukup sulit dicapai dan akan memakan waktu cukup lama (Santoso, 2003).
            Penentuan kualitas suatu bahan pakan dapat dilakukan secara fisik, kimia maupun biologis. Langkah tersebut dilakukan mengingat adanya variasi antara bahan pakan. Dua macam bahan pakan mungkin secara fisik terlihat sama namun mungkin saja kedua bahan pakan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda, sehingga analisis fisik dan kimia perlu dilakukan. Sebenarnya analisis secara kimia saja tidak cukup, percobaan dengan ternak harus dilakukan karena bahan pakan yang menandung nutrisi tinggi mungkin saja mempunyai kecernaan yang rendah (Tilman, 2003).
            Pakan sapi yang banyak mengandung sumber energi adalah Biji-bijian (jagung, sorghum/cantel, kedelai, kacang-kacangan), Umbi-umbian(ketela pohon, ketela rambat, kentang), dan juga dari jenis minyak nabati (kelapa, minyak sawit, minyak kedelai). Bahan pakan bias dikatakan sebagai sumber energy yang baik apabila kandungan energinya lebbih  dari 2250 Kkal/kg (Smith, 2000).
                        Ukuran partikel bahan sangat berpengaruh terhadap kerapatan tumpukan yaitu pengecilan ukuran partikel akan menurunkan nilai kerapatan tumpukan pada bahan pakan. Selain pengecilan ukuran, kandungan air juga turut berpengaruh dimana nilai kerapatan tumpukan akan semakin turun dengan meningkatnya kadar air bahan pakan (Alamsyah, 2002).
            Pakan yang banyak mengandung protein berasal dari sumber protein nabati dan hewani. Contohnya adalah: tepung daging, tepung ikan, susu skim, tepung darah, kacang tanah, kacang kedelai, turi, gamal, lamtoro, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, bungkil kedelai, bungkil kacang, bungkil jagung, dll. Sumber protein yang baik apabila  kadar proteinnya lebih dari 20% (Sarmono,  2007).
Bahan yang perlu ditambahkan untuk menambah selera makan hewan ternak. Bahan additivebiasa berupa asam amino, penambah aroma/cita rasa, vit-min mix. Penggunaan bahan additive ini sebaiknya digunakan pada takaran yang jangan terlalu banyak (Santoso, 2003).
Pemberian ransum dapat dilakukan dengan cara bebas  maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat pakan sepanjang waktu  agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia. Cara ini biasanya  disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun pelet. Penggantian ransum starter dengan  ransum  finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus,  tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum  starter 75%  ditambah  ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50%  ditambah  ransum finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter  25% ditambah ransum finisher 75% dan hari terakhir diberi ransum finisher seluruhnya. Jika tahapan ini tidak dilakukan maka nafsu  makan ayam menurun untuk beberapa hari dan dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan (Sarmono, 2007).
Anggorodi (2006) mengatakan bahwa dalam menyusun ransum kadar air bahan terpiilih harus diketahui dengan tepat atau setidaknya mendekati, disamping kadar nutrisi yang lain sehingga ransom yang kita susun akan mengandung zat-zat gizi yang tepat dan serasi sesuai dengan kebutuhan ternak yang dipelihara.
Eszra (2006) mengatakan bahwa kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten.
Tillman et al., (2004) mengatakan bahwa Sampel makanan ditimbang dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven dengan suhu 105ᵒC. Pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan kering dan penggunaanya dengan sampel disebut kadar air.
Triaz (2008) menyatakan bahwa pada analisi protein kasar terdapat kesalahan asumsi yaitu mengasumsikan semua nitrogen bahan pakan merupakn protein padahal kenyataanya bahwa tidak semua nitrogen berasal dari protein dan mengasumsikan bahwa kadar nitrogen protein 16 % padahal kenyataanya kadar nitrogen protein tidak selalu 16 %.
Utomo (2005) mengatakan bahwa hijauan pakan segar berkadar air sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya tetap diperoleh bahan pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering udara atau dry matter.
Winarno (2000) mengatakan bahwa protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup. 
Yunus (2006) mengatakan bahwa kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten.
Prawiradiputra (2001) mengatakan bahwa pakan hijauan merupakan pakan utama bagi ternak sapi, hijauan pakan ternak terdiri dari rumput dan legume.
Hijauan pakan segar berkadar air sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya tetap diperoleh bahan pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering udara atau dry weight. Bahan pakan konsentrat pada umumnya berada pada kondisi kering udara dan sering disebut kondisi as fed (keadaan apa adanya) (Utomo dan Soejono, 2009).
Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup dimana kita ketahui bahwa bungkil kelapa sawit bahan pakan yang kandungan gizinya seperti : protein = 17,09 %, Lemak = 9,44 %, karbohidrat = 23,77 %, Abu = 5,92 %, Serat kasar 30,4%, Air = 13,35 %. (Adnan, P. 2001)
Kedelai adalah biji-bijian yang tertinggi kandungan proteinnya yaitu sekitar 42%. Sewaktu panen biji kedelai masih cukup tinggi kandungan kadar airnya. Oleh karena itu perlu diturunkan lagi kadar airnya menjadi sekitar 15% agar dapat lama disimpan. Bila digunakan sebagai pakan perlu digiling terlebih dahulu agar mudah dicampur. Bagi ternak non ruminansia ( babi muda dan unggas ) perlu adanay pemansan 1150C selama 10 menit sehingga tidak mengganggu proses pencernaan. -kadar air  2%  calsium 0,4% , protein kasar: 46% , fospor : 0,8%, serat kasa : 6,5 %, aflatonin : 50 (ppg)   abu : 7%, lemak kasar  : 3,7%. (Parning, 2000)



BAB III.  MATERI DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum pada selasa 29 mei 2014 pukul 14.00 sd selesai yang bertempat di laboratorium Bahan Pakan dan Formulasi Ransum gedung C Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

3.2 Materi
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum analisis proksimat ini adalah H2SO4 pekat, H2SO4 0,3N, NaOH 40%, NaOH 0,3N, NaOH 1,5N, tepung bungkil kelapa, tepung kulit nenas, tepung kerabang telur, tepung legum stylosantes, tepung legum callopogonium, tepung legum sentrocema, ampas tahu, tepung bungkil kedele, pati ubi, tepung jagung, tepung bungkil inti sawit, cawan porselen, eksikator oven 105 C, penjepit, neraca analitik, soxhlet, tanur, lemari asam, pinset, sarung tangan karet, kapas bebas lemak, kertas saring bebas lemak, batu didih, gelas ukur, biuret, destilator, labu destruksi, labu destilasi, gelas piala, corong bucner, pompa vacum dan pemanas listrik.

3.3 Metode
Adapun cara kerja yang dilakukan pada pelaksanaan praktikum tentang Analis proksimat ini dimana analisis proksimat ini terbagi atas 5 sub judul diantaranya adalah Penentuan Kadar Air, Penentuan Kadar Abu, Penentuan Protein Kasar, Penentuan Lemak Kasar, dan Penentuan Serat kasar.
Penentuan Kadar Air
Cara kerja yang dilakukan pada praktikum  Penentuan Kadar Air  adalah pertama  sekali cawan porselen dicuci bersih lalu dikeringkan didalam oven selama   1 jam dengan menggunakan temperaturC, kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit lalu ditimbang (C). setelah itu Sampel ditimbang sebanyak 0.5 – 1 gram (D) lalu dimasukkan kedalam cawan porselen , kemudian cawan dan sampel dimasukkan kedalam oven C untuk dikeringkan selama  12 – 16 jam. Kemudian cawan dan sampel (E)  dikeluarkan dari oven kemudian didinginkan didalam eksikator selama 10–20 menit sampai diperoleh berat yang tetap.

Penentuan kadar abu
Cara kerja yang digunakan pada praktikum Penentuan Kadar Abu yaitu pertama cawan porselen yang bersih, dikeringkan didalam oven sekitar 1 jam pada temperatur C, lalu didinginkan didalam eksikator sekitar  10–20 menit dan ditimbang (F). setelah itu sampel ditimbang dengan teliti (G) lalu dimasukkan kedalam cawan porselen. Pijarkan sampel yang terdapat dalam cawan porselen hingga tak berasap. bakar cawan porselen yang berisi sampel dalam tanur yang bersuhu  C. sampel dibiarkan terbakar sampai 3–4 jam atau sampai berwarna putih semuanya. setelah sampel berwarna putih semua, lalu dinginkan dalam tanur pada suhu C sebelum dipindahkan kedalam eksikator, sesudah dingin sample ditimbang dengan teliti (H).
Rumus :

Penentuan Protein Kasar
Cara kerja yang dilakukan pada praktikum Penentuan Protein Kasar adalah sampel ditimbang sebanyak 0.3 gram (I) lalu dimasukkan kedalam labu destruksi. Tambahkan kira–kira 0.2 gram katalis campuran dan 5 ml H2So4 pekat. Kemudian campuran tersebut dipanaskan dalam lemari asam. Lihat proses destruksi selama pemanasan agar tidak meluap. bila larutan sudah menjadi warna hijau terang atau warna jernih maka destruksi dihentikan, lalu dinginkan dalam lemari asam. larutan dimasukkan kedalam labu destilasi dan diencerkan dengan 60 ml aquades. Masukkan satu buah batu didih, dimana fungsi dari batu didih adalah percepatan panas.
Dengan pelan – pelan ditambahkan 20 ml NaOH 40% melalui diding labu  dan dihubungkan dengan destilator.
Sulingan (dan air) ditangkap oleh labu Erlemeyer yang berisi 25 ml  0.3 N, 2 tetes indikator campuran yaitu Methyl red 0.1 % dan Bromcresol green 0.2% dalam alkohol. penyulingan dilakukan hingga nitrogen dari cairan tersebut tertangkap oleh yang ada dalam erlenmeyer ( 2/3 dari cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau terjadi letupan–letupan kecil atau erlenmeyer mencapai volume 100 ml. setelah itu labu erlenmeyer yang berisi sulingan diambil dan dititrasi kembali dengan NaOH 0.3N (J). Perhatikan perubahan warna yang terjadi pada saat dititrasi jika warna berubah menjadi warna hijau maka titrasi dihentikan karena sudah menandakan titik akhir titrasi.  Lalu bandingkan dengan titer blanko (K).        
Penentuan Lemak Kasar
Cara kerja yang digunakan pada praktikum Penentuan Lemak Kasar yaitu sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 1 gram (L) dan dibungkus dengan menggunakan kertas saring yang bebas lemak. Laludikeringkandalam oven C selama 5 jam setelah itu didinginkan dalam eksikator lalu ditimbang (M). sampel dimasukkan kedalam tabung ekstraksi soxhlet. Soxhlet di isi dengan pelarut melalui kondensor dengan corong. Alat pendingin dialirkan dan panas dihidupkan.ekstraksi berlangsung selama 16 jam sampai pelarut pada alat soxhlet terlihat jernih. Sampel dikeluarkan dari alat soxhlet dan dikeringkan dalam oven C selama 5 jam, kemudian didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (N).

Penentuan serat kasar
Cara kerja yang digunakan pada praktikum Penentuan Serat kasar adalah kertas saring whatman No 41 dikeringkan didalam oven C selama satu jam lalu ditimbang (O). timbang sample dengan teliti (P) dan masukkan kedalam gelas piala. Tambahkan 50 ml  0.3 N dan didihkan selama 30 menit dalam pemanas listrik. setelah 30 menit didihkan, tambahkan dengan cepat 50 ml NaOH 1.5 N dan didihkan kembali selama 30 menit. Lalu cairan disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah diketahui beratnya didalam corong Buchner yang telah dihubungkan dengan pompa vakum. kertas saring bersama residu dicuci berturut – turut dengan 50 ml H2O panas, 50 ml  0.3 N, 50 ml  panas  dan aceton. kertas saring berisi residu dimasukkan kedalam cawan porselen yang bersih dan dikeringkan dalam oven sampi didapat berat yang konsta, didinginkan dalam eksikator lalu ditimbang (Q). pijarkan sampel dalam cawan hingga tidak mengeluarkan asap. Kemudian cawan bersama isinya dimasukkan kedalam tanur C selama 3–4 jam.
setelah isi dari cawan berubah warna menjadi warna putih, lalu diangkat, didinginkan dan dilakukan penimbangan (R).
Penentuan bahan ekstrak tanpa nitrogen
Kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) ditentukan dengan mengurangi total kandungana zat makanan dalam bahan pakan dengan persentase abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar. ( 100% - (% abu+% PK+%LK+%LK+%SK).



BAB.IV HASIL DAN PEMBAHASAN

            Adapun hasil dan pembahasan yang didapatkan dari pratikum analisis proksimat yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Perhitungan Penentuan Kadar Air
Kelompok
Bahan Pakan
C (gr)
D (gr)
E (gr)
Kadar Air (%)
A1
BIS
35,0
1
35,9
10
A2
T. Kulit Duku
22,1
1
23,0
10
A3
Ampas jamu
39,2
1
40,1
10
A4
k.nanas
34,4
1
35,3
10
A5
Biji karet
21,1
1
22,0
10
A6
Jerami
37,2
1
38,1
10
A7
Kolobot Jagung
21,5
1
22,4
10
A8
Petai cina
25,2
1
26,1
10
A9
T. ikan
26,1
1
27,0
10
A10
Tapioka
26,7
1
27,6
10
A11
Ampas tahu
18
1
18,9
10
A12
Ampas kunyit
32,5
1
33,3
20
A13
T. biji durian
22,2
1
23,1
10
A14
T. kedelai
20,1
1
21,0
10
A15
T. kulit durian
40,4
1
41,3
10
A16
Jeroan ikan
39,2
1
40,1
10
Ket : Berat cawan (C), Berat sampel (D), Berat cawan dan sampel (E)

Hijauan pakan segar berkadar air sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya tetap diperoleh bahan pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering udara atau dry weight. Bahan pakan konsentrat pada umumnya berada pada kondisi kering udara dan sering disebut kondisi as fed (keadaan apa adanya) (Utomo dan Soejono, 2009).
Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup dimana kita ketahui bahwa bungkil kelapa sawit bahan pakan yang kandungan gizinya seperti : protein = 17,09 %, Lemak = 9,44 %, karbohidrat = 23,77 %, Abu = 5,92 %, Serat kasar 30,4%, Air = 13,35 %. (Adnan, P. 2001).

Tabel 2. Hasil Perhitungan Penentuan Kadar Abu
Kelompok
Bahan
F (gr)
G (gr)
H (gr)
Kadar Abu
(%)
A1
BIS
35,0
1
35,04
4
A2
T. Kulit Duku
22,1
1
22,24
14
A3
Ampas jamu
39,2
1
39,68
48
A4
k.nanas
34,4
1
34,49
9
A5
Biji karet
21,1
1
21,14
4
A6
Jerami
37,1
1
37,29
19
A7
Kolobot Jagung
21,5
1
21,57
7
A8
Petai cina
25,2
1
25,21
1
A9
T. ikan
26,1
1
26,37
27
A10
Tapioka
26,7
1
26,72
2
A11
Ampas tahu
17,9
1
17,98
8
A12
Ampas kunyit
32,55
1
32,15
5
A13
T. biji durian
22,2
1
22,28
8
A14
T. kedelai
20,1
1
20,14
4
A15
T. kulit durian
1
A16
Jeroan ikan
39,1
1
39,25
15
Ket : Berat cawan (F), Berat sampel (G), Berat cawan dan sampel(H)

Hasil tersebut ditinjau dari beberapa literature adalah sebagai berikut Penetuan kadar abu berguna untuk menentukan kadar ekstrak tanpa nitrogen. Disamping itu kadar abu dari pakan yang berasal dari hewan dan ikan dapat digunakan sebagai indek untuk kadar Ca (Kalsium) dan P (Fofsor), juga merupakan tahap awal penentuan berbagai mineral yang lain (Yunus, 2008).

Tabel 3. Hasil Perhitungan Kadar Protein Kasar
Kelompok
Bahan
I (gr)
J (gr)
K (gr)
Protein Kasar (%)
A1
BIS
0,3
13,2
17.5
37,625
A2
T. Kulit Duku
0,3
15,1
17.5
21
A3
Ampas jamu
0,3
14,1
17.5
29,75
A4
k.nanas
0,3
15,2
17.5
20,125
A5
Biji karet
0,3
12,9
17.5
40,25
A6
Jerami
0,3
14,3
17.5
28
A7
Kolobot Jagung
0,3
14,8
17.5
23,625
A8
Petai cina
0,3
12,2
17.5
46,375
A9
T. ikan
0,3
9,2
17.5
72,125
A10
Tapioka
0,3
16,0
17.5
13,125
A11
Ampas tahu
0,3
13,7
17.5
33,25
A12
Ampas kunyit
0,3
15,5
17.5
17,5
A13
T. biji durian
0,3
15,1
17.5
21
A14
T. kedelai
0,3
12,0
17.5
48,125
A15
T. kulit durian
0,3
15,9
17.5
14
A16
Jeroan ikan
0,3
13,2
17.5
31,54
Ket : Berat sampel (I), Hasil titrasi(J), Titer blanko(K)

Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen yang diadakan secara teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk varietas Taiwan, semakin tua CP semakin menurun). Pada daun muda nilai ketercernaan (TDN) diperkirakan mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua hingga 55%. (Fakri, S. 2010).

Tabel 4. Hasil Perhitungan Kadar Lemak Kasar
Kelompok
Bahan
L (gr)
M (gr)
N (gr)
Lemak Kasar(%)
A1
BIS
1
1,85
1,77
8
A2
T. Kulit Duku
1
1,83
1,73
10
A3
Ampas jamu
1
1,88
1,79
9
A4
k.nanas
1
1,82
1,79
3
A5
Biji karet
1
1,91
1,69
22
A6
Jerami
1
1,83
1,83
0
A7
Kolobot Jagung
1
1,84
1,81
3
A8
Petai cina
1
1,92
1,86
6
A9
T. ikan
1
1,90
1,86
4
A10
Tapioka
1
1,88
1,87
1
A11
Ampas tahu
1
1,92
1,87
5
A12
Ampas kunyit
1
1,73
1,73
0
A13
T. biji durian
1
1,89
1,87
2
A14
T. kedelai
1
1,94
1.71
23
A15
T. kulit durian
1
1,84
1,82
2
A16
Jeroan ikan
1
1,99
1,88
11
Ket : Berat sampel(L), Berat kertas saring dan sampel(M), Berat sampel setelah di ekstraksi(N)

Hasil tersebut ditinjau dari beberapa literature adalah sebagai berikut Lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang larut di dalam pelarut lemak (eter, petroleum, bezen, alkohol 100%). Lemak di dalam tubuh ternak berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi. Unsur nutrisi ini dicerna menjadi asam-asam lemak dan gliserol yang sebagian diubah menjadi energi, sedang yang lainnya disimpan sebagai lemak tubuh yang akhirnya akan menghasilkan asam amino nonessensial (Kartadisatra, H.R. 1997).


Tabel 5. Hasil Perhitungan Kadar Serat Kasar
Kelompok
Bahan
O (gr)
P (gr)
Q (gr )
R (gr)
Serat Kasar(%)
A1
BIS
1,01
1
35,61
34,47
13
A2
T. Kulit Duku
1,03
1
23,40
22,18
9
A3
Ampas jamu
1,02
1
40,21
39,11
8
A4
k.nanas
1,01
1
19,10
17,96
13
A5
Biji karet
1,02
1
28,07
26,87
18
A6
Jerami
1,03
1
33,80
32,51
26
A7
Kolobot Jagung
0,92
1
22,74
21,55
27
A8
Petai cina
1,02
1
21,29
20,12
15
A9
T. ikan
0,97
1
38,12
37,14
1
A10
Tapioka
1,03
1
23,34
22,24
7
A11
Ampas tahu
1,04
1
41,66
40,38
24
A12
Ampas kunyit
1,03
1
36,07
35,01
3
A13
T. biji durian
1,08
1
22,34
22,24
2
A14
T. kedelai
1,03
1
22,25
21,16
6
A15
T. kulit durian
0,95
1
27,34
26,18
21
A16
Jeroan ikan
1,06
1
40,55
39,37
12
Ket : Berat kertas saring(O), Berat sampel(P), Berat cawan yang berisi sampel dan residu setelah di oven 105(Q), Berat cawan yang berisi sampel setelah di tanur(R)
Hasil tersebut ditinjau dari beberapa literature adalah sebagai berikut Serat kasar menurut analisis proksimat adalah semua senyawa organik yang tidak larut dalam perebusan dengan larutan H2SO41,25% dan perebusan dengan larutan NaOH 1,25% selama 30 menit. Dalam perebusan senyawa organik akan larut kecuali serat kasar dengan berbagai campurannya. Yang ternasuk dalam serat kasar adalah hemisellulosa, pentosan, lignin dan cutine (Sutardi, 2000).
Sampel yang telah bebas lemak dan telah disaring dipakai untuk mendapatkan serat kasar. Sampel bila ditambah 1,25% larutan asam sulfat dan dipanaskan ± 30 menit, kemudian residu disaring. Endapan yang didapat ditambah 1,25% larutan NaOH dan dipanaskan 30 menit kemudian disaring. Endapan yang didapat dicuci, dikeringkan dan ditimbang, lalu dibakar dan abunya ditimbang. Perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar dan berat abu disebut serat kasar ( Mutidjo, 2007).

Tabel 6. Hasil Penentuan BETN
Kelompok
Bahan
BK(%)
%  Abu
% PK
% LK
%  SK
%BETN
A1
BIS
90
4
37,625
8
13
27,375
A2
T. Kulit Duku
90
14
21
10
19
64
A3
Ampas jamu
90
48
29,75
9
8
-4,75
A4
k.nanas
90
9
20,125
3
13
44,875
A5
Biji karet
90
4
40,25
22
18
5,75
A6
Jerami
90
19
28
0
26
17
A7
Kolobot Jagung
90
7
23,625
3
27
29,375
A8
Petai cina
90
1
46,375
6
15
21,625
A9
T. ikan
90
27
72,125
4
1
-14,125
A10
Tapioka
90
2
13,125
1
7
68,875
A11
Ampas tahu
90
8
33,25
5
24
19,75
A12
Ampas kunyit
80
17,5
0
3
54,5
A13
T. biji durian
90
8
21
2
2
57
A14
T. kedelai
90
4
48,125
23
6
8,875
A15
T. kulit durian
90
14
8
21
A16
Jeroan ikan
90
15
31,54
10
12
20,46

Hasil tersebut ditinjau dari beberapa literature adalah sebagai berikut Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen dalam arti umum adalah sekelompok karbohidrat yang kecernaannya tinggi, sedangkan dalm analisis proksimat yang dimaksud Ekstrak Tanpa Nitrogen adalah sekelompok karbohidrat yang mudah larut dengan perebusan menggunakan asam sulfat 1,25% atau 0,255 N dan perebusan dengan menggunakan larutan NaOH 1,25% atau 0,313 N yang berurutan masing-masing selama 30 menit. (M. Syarief, 2003).



BAB V. PENUTUP
5.1  Kesimpulan
     Dari hasil praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum yang berjudul analisis proksimat dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi, kadar air, kadar abu, protein, lemak, serat kasar serta kadar bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) pada suatu zat makanan dari bahan pakan ternak. Analisis proksimat adalah analisis terhadap suatu bahan yang menyangkut air, protein, lemak, abu dan serat.
Ternak membutuhkan zat-zat makanan yang ada dalam pakan seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Dengan adanya analisis proksimat, kandungan suatu pakan bisa diketahui. Contohnya pada rerumputan. Kita bisa mengetahui kandungan zat makanan dalam rumput. Setelah kita mengetahuinya, kita bisa membandingkan rumput apa saja yang paling tinggi kandungannya dan paling cocok bagi ternak.

5.2  Saran
Sebaiknya pada saat praktikum praktikan bersungguh-sungguh, dan tidak main-main. Dalam analisis sampel yang digunakan harus ditimbang dan memperhatikan timer saat pelaksaan analisis berlangsung.






 DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, R. 2002. Pengolahan Pakan Ayam Secara Modern. Erlangga. Jakarta.
Anggordi. 2006Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: PT Gramedia.
Eszra.Y.2004. Analisa Makanan.Erlangga. Jakarta.
Handaka. 2008. Nutrisi Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
   Lubis. 2007. Ilmu Makanan Ternak Umum. Erlangga. Jakarta.
Maynard dan Loossi. 2001.  Makanan Ternak Unggas.  BPFE : Yogyakarta.
Prawiradiputra,dkk. 2001Manfaat Pakan Bagi Ternak. Bhratara Karya Aksara : Jakarta.
Praworo .2003Bahan Kuliah Bahan Pakan. Fakultas Peternakan : Universitas
Jakarta.
Santoso. 2003. Teknik Formulasi Ransum. Erlangga.Yogjakarta
Sinurat. 2000Analisa Hasil Pangan . Erlangga. Jakarta.
Sarmono.  2007. Ilmu Makanan Ternak DasarGajah MadaUniversity.Yogyakarta.
Smith. 2000. Penuntun   Bahan  Pakan  dan  Formulasi Ransum.  Yudistira. Jakarta.
Suprapto. 2002. Pembuatan Pakan Ternak Unggas  . Depdikbud. Jakarta.
Tilman. 2003. Formulasi  Bahan Pakan. PT PWI. Jakarta.
Triaz.2008.Bahan Makanan Ternak.Erlannga:Jakarta
Zardian. 2001. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar